SEPUTAR IMLEK

APA ITU IMLEK??

Perayaan tahun baru Imlek itu perayaan tahun baru berdasarkan kalender bulan (peredaran bulan mengelilingi bumi). Kalau orang Tiongkok biasa menyebutnya dengan sebutan Xin Nian (Xin=baru, Nian=tahun), Guo Nian (Guo=lewat, Nian=tahun), Xin Chun (Xin=baru, Chun=musim semi). Makanya, perayaan tahun baru Imlek bisa juga dipahami sebagai hari pergantian musim, dari musim dingin ke musim semi.
Sedangkan untuk istilah Guo Nian, latar belakangnya karena zaman dahulu kala, ada makhluk raksasa yang oleh orang Tiongkok disebut Nian. Dalam mitos, raksasa Nian ini suka memangsa tanam-tanaman, bahkan manusia. Kemudian berkembanglah perayaan tahun baru Imlek ini sebagai perayaan ungkapan syukur karena raksasa yang membawa bencana telah lewat.

 

APA YANG KHAS DARI PERAYAAN IMLEK?

Ternyata yang khas dari Imlek enggak cuma warna merah dan angpao, loh. Perayaan tahun baru Imlek menjadi khas dan unik karena perayaan ini berlangsung selama lima belas hari. Nah, dalam waktu lima belas hari itu, ternyata ada banyak banget kebiasaan masyarakat tradisional yang sebagian tradisinya masih dipertahankan dan terus dipelihara sampai sekarang. Sebagian lain juga ada yang sudah musnah karena tidak dipelihara.
Contoh tradisi yang masih dipelihara sampai sekarang adalah tradisi yang mengandung nilai-nilai falsafah kehidupan yang bersifat universal dan tetap relevan pada zaman sekarang.

 

TRADISI IMLEK APA YANG MASIH DIPELIHARA?

Ternyata, ini dia beberapa contoh tradisi perayaan Imlek yang masih dipelihara sampai sekarang:
1. Tradisi bersih-bersih rumah. Biasanya dilakukan kurang lebih satu minggu sebelum hari raya Imlek.
2. Memasang hiasan-hiasan berbau Imlek, seperti memasang lampion-lampion dengan tulisan-tulisan penuh                    harapan.
3. Membersihkan makam keluarga atau saudara yang telah meninggal dan mendoakan mereka.
4. Memberi hongpao/angpao.
5. Makan bersama pada malam hari menjelang tahun baru Imlek. Semua anggota keluarga akan berkumpul bersama     di rumah orang tua.
6. Memberi hormat dan mengucapkan selamat tahun baru.

 

BAGAIMANA MERAYAKAN IMLEK SETURUT IMAN KATOLIK?

Teman-teman OMK, pernah enggak mengalami kebingungan saat akan merayakan Imlek? Mana yang harus dipilih, Iman Katolik atau tradisi nenek moyang yang sudah diwariskan dari orang tua? Khususnya buat umat Katolik Tionghoa (mereka yang sudah dibabtis secara Katolik), biasanya bingung karena mereka juga menerima warisan tradisi dari orang tua yang harus dipelihara. Ya kan?

Terkadang nih, ada yang merasa bahwa, karena sudah babtis Katolik, maka semua tradisi warisan orang tua, secara ekstrem langsung ditinggalkan sama sekali. Namun, ada juga yang mengambil sikap mendua, sebagai orang Katolik, tetapi sekaligus menghidupi tradisi. Sebenarnya, Gereja Katolik mengakui dan menghargai bahwa di luar Gereja terkandung nilai-nilai luhur kemanusiaan yang sejalan dengan iman dan keyakinan Gereja Katolik, loh. Gereja Katolik merasa itu semua tadi perlu dimurnikan, agar iman umat semakin mendalam dan mengakar. Makanya, merayakan tahun baru Imlek menjadi sebuah kesempatan dan proses katekese umat untuk memurnikan dan mengakarkan iman dalam tradisi yang masih dihidupi (inkulturasi). Antara iman Katolik dan tradisi budaya Tionghoa sebenarnya tidak perlu dipertentangkan, namun sebaliknya, justru diusahakan. Mengusahakan bagaimana iman dan tradisi itu dipertemukan, agar iman mendapatkan dasar dalam hidup sehari-hari, sehingga iman itu bukanlah hal yang mengawang-ngawang, melainkan berwujud dalam tindakan-tindakan moral yang termuat dalam tradisi tahun baru Imlek. Tentu saja beberapa tradisi budaya Tionghoa yang berbau takhayul harus dihindari.

 

NILAI MORAL APA YANG SEJALAN DENGAN IMAN KATOLIK?

Nah, nilai moral apa saja sih yang ada dalam tradisi tahun baru Imlek? Tentunya yang sejalan dengan iman Katolik dong! Sebenarnya banyak banget loh nilai-nilai moral yang sejalan dengan iman Katolik dalam perayaan tahun baru Imlek. Antara lain:
1. Tradisi bersih-bersih rumah.
Tradisi ini sejalan dengan semangat pertobatan dalam tradisi iman Katolik.
2. Makan bersama pada malam hari menjelang tahun baru Imlek.
Tradisi ini sejalan dengan warisan perjamuan makan malam terakhir Yesus yang sejalan dengan semangat kasih         persaudaraan dalam hidup bersama.
3. Memberi hormat dan mengucapkan selamat tahun baru.
Tradisi ini sejalan dengan 10 perintah Allah untuk hormat kepada orang tua.
4. Memberi hongpao/angpao.
Tradisi ini sejalan dengan nilai solidaritas kepedulian kepada yang lemah, miskin, dan tersingkir.
5. Makanan khas tahun baru Imlek, seperti kue keranjang, buah jeruk, dan kue manis.
Menjadi simbol harapan akan hal baik, sejalan dengan keyakinan iman Gereja akan iman, harapan, dan kasih.
6. Simbol warna merah yang dominan dalam perayaan Imlek.
Bagi orang Tionghoa, warna merah mempunyai makna kegembiraan. Dalam tradisi iman Katolik, warna merah          berarti kemartiran dan pengorbanan. Kalau diperhatikan, maknanya kayanya beda ya? Eits! Enggak juga. Kedua        makna tersebut sebenarnya saling melengkapi loh gaes. Kebahagiaan itu bisa diraih melalui semangat kemartiran      dan pengorbanan. Ga akan ada salib tanpa kebahagiaan dan ga akan ada kebahagiaan tanpa salib.

 

Demikian penjelasan mengenai Imlek di dalam Katolik.

imlek 1Bantuan penjelasan oleh RD. Martinus Maryoto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *