Puluhan Sekolah, Pesantren dan Komunitas akan Menjadi Sasaran Kampanye Anti Hoaks dari Orang Muda Katolik dan Santri

 

peserta membuat rencana

Setidaknya ada 15 pondok pesantren, lebih dari 20 komunitas dan lebih dari 20 lembaga pendidikan yang menjadi sasaran pelatihan melawan hoaks. Rencana tersebut dibuat oleh peserta Pelatihan Tim Anti Penyebaran Hoaks yang berlangsung di Pondok Pesantren Mahasiswa An Najah (Sabtu-Minggu, 19-20/8). Sejumlah 100 peserta yang terdiri dari anak-anak muda Katolik, santri An Najah, GP Ansor, dan Gusdurian Muda tersebut siap menjadi pemateri dalam puluhan pelatihan yang akan digelar dalam waktu tiga bulan ke depan. Wilayah pelatihan mencakup daerah asal para peserta, dari mulai Purwokerto, Cilacap, Gombong, Purworejo, Batang, Pekalongan, Pemalang hingga Tegal dan Brebes.

Pelatihan yang menghadirkan pembicara tunggal Alois Wisnuhardana menyadarkan bahaya yang mencancam dari peredaran berita-berita bohong di media sosial. Seringkali berita tersebut sengaja diproduksi oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan mereka. Wisnu menyebutkan, konflik yang terjadi di beberapa Negara seperti Suriah, Irak, juga kota Marawi di Philipina bermula dari peredaran berita di media sosial yang menimbulkan pertentangan berbagai pihak.

Seorang peserta pelatihan yang juga pelajar di Pekalongan Antonia Roza Lorenza (19) merasakan bagaimana masyarakat cenderung lebih individual. “Kadang cuek dengan orang-orang di sekitarnya karena informasi sudah mereka dapat dari media sosial,” katanya.

Agustina peserta dengan latar belakang sebagai guru melihat bagaimana pertentangan terjadi di tempatnya mengajar. Dampak buruk media sosial memecah belah persatuan bangsa. “Bahkan saya melihat juga di sekolah,” ungkapnya.

Thomas Sutasman (43), seorang guru SMP swasta di Cilacap mengamati anak-anak muda begitu mudah membagikan dan memviralkan informasi yang masuk ke gawai mereka tanpa berpikir terlebih dulu. “Seakan mengikuti kata-kata, saya memviral, saya ada,” katanya.

Bagi FA Agus Wahyudi (52), media sosial seperti pisau bermata dua.  “Tergantung dari pemegangnya.  Bila pemegangnya ‘sembrono’ maka bisa menghancurkan semua hal.  Pertemanan,  persaudaraan menjadi  permusuhan,  pembunuhan karakter,  dan bahkan bisa menghancurkan Negara,” tegasnya.

Pada paruh waktu hari Minggu (20/8), peserta membuat rencana tindak lanjut dari pelatihan tersebut. Santri An Najah Muhammad Faishal Danial mendukung gerakan nyata selepas pelatihan. “Pelatihan ini bertambah bagus kalau sudah sampai gerakan nyata,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, dirinya melihat orang lebih lama memegangi telepon seluler daripada berinteraksi sosial. Lurah atau pimpinan santri di Pondok Pesantren Mahasiswa An Najah ini sepakat bahwa ada banyak hal positif yang bisa dimanfaatkan dengan keberadaan media sosial. “Media sosial bisa menjadi wadah menjalin komunikasi dan bertukar pikiran,” katanya.

Khasis Munanda (40) asal Kemranjen Banyumas yang merupakan perwakilan GP Ansor merencanakan melakukan pelatihan-pelatihan serupa di komunitasnya. “Ada hal positif dari media sosial yaitu cepatnya informasi disampaikan. Selain itu juga bnisa menjadi sarana untuk pemersatu dan mencerdaskan. Juga bisa meningkatkan pendapatan,” paparnya.

Selain mendukung rencana bersama peserta lain, Rini Astuti Christiana (53) juga berencana mengkampanyekan gerakan anti hoaks di lingkungannya. “Saya akan menyebarkan menyebarkan di paroki saya, Santo Yosep Purwokerto dan RT saya di perumahan Teluk,” ungkapnya.

Hendry Huang (31) dari Purwokerto berencana membuat tulisan-tulisan yang dengan kabar yang menggembirakan. “Agar dapat menjadi sukacita bagi sesame,” katanya.

Rencana bersama untuk mensosialisasikan perlawanan terhadap berita-berita bohong di puluhan pondok pesantren, komunitas dan sekolah akan dilaksanakan dalam waktu tiga bulan.

Rangkaian pelatihan ditutup dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan secara sepontan menyanyikan lagu Ya Lal Wathon, ciptaan tokoh NU KH Abdul Wahab Chasbullah.

Sutriyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *