Lagu Ya Lal Wathon Berkumandang pada Pelatihan Ratusan Anak Muda Katolik dan Santri

Sesudah dengan khusuk menyanyikan lagu Bagimu Negeri, secara spontan Alois Wisnuhardana meminta ada santri yang memimpin lagu Ya Lal Wathon. Dalam satu sampai dua menit kemudian peserta Teguh Iman Darus Jamin dari Gerakan Pemuda Ansor beserta beberapa santriwati memimpin menyanyikan lagu tersebut dengan penuh semangat. Anak-anak muda Katolik terlihat terbawa suasana. Mereka, termasuk Ketua Komsos Keuskupan Purwokerto Rm Teguh Budiarto, ikut mengepalkan tangan kanan dan menggerak-gerakkan mengikuti irama lagu.

Pada akhir lagu Teguh yang memimpin memekik dua kali, ‘siapa kita’ yang dijawab seluruh peserta dengan pekikan ‘Indonesia’. “NKRI..!!” pekik Teguh. “Harga mati..!!” sahut peserta.

Lagu Ya Lal Wathon adalah lagu ciptaan tokoh NU KH Abdul Wahab Chasbullah sebelum Indonesia merdeka.   Lagu ini menggambarkan semangat kecintaan kaum Nahdliyin pada tanah air Indonesia.

Lagu yang dinyanyikan secara spontan tersebut menjadi akhir dari kegiatan Pelatihan Tim Anti Peredaran Berita Hoaks di Pondok Pesantren Mahasiswa An Najah, Sabtu-Minggu (19-20/8). Pelatihan yang diikuti oleh 100 anak muda Katolik dan santri tersebut merupakan kerja sama antara Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Purwokerto dengan Pondok Pesantren Mahasiswa An Najah. Alois Wisnuhardana yang merupakan Ketua Tim Social Media Management Centre Kantor Staf Presidenan RI menjadi pembicara tunggal.

Menurut Wisnu, berita sampah beredar di media sosial. Ia menyebut beberapa ciri dari berita sampah seperti menciptakan kecemasan dan ketakutan, menebarkan permusuhan dan profokasi. Wisnu memberi contoh, sebelum berita politik tersebar luas, berita yang tersebar di antaranya adalah masalah kesehatan. Misalnya ada berita yang menyebutkan bahwa makan sayur kangkung yang dimakan bisa membawa lintah masuk dan hidup di dalam perut. “Mereka menciptakan kecemasan dan ketakutan,” kata Wisnu.

“Ciri lain adalah propaganda dengan sumber berita tidak jelas. Tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab,” katanya.

anti hoaks
Wisnu menunjukkan begitu mudahnya memproduksi berita bohong. Sebuah video yang diputar menggambarkan bagaimana “film” kekacauan dan korban ledakan dibuat. Selepas sebuah bom mobil meledak, tiba-tiba ada orang berlarian menuju ke arah ledakan. Selepas itu orang-orang tersebut menjatuhkan badan ke tanah dan berguling-guling seakan-akan kesakitan. Beberapa saat kemudian datang kendaraan ambulan lengkap dengan petugas medis yang menolong dan mengevakuasi “korban ledakan”.

“Apakah untuk mobil yang meledak tidak butuh uang? Apakah orang-orang yang akting itu tidak dibayar?” tanya Wisnu.

Wisnu memaparkan sekelompok anak-anak umur belasan tahun diuntungkan dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Anak-anak remaja tersebut memproduksi berita bohong. “Mereka hanya bermodal 200-300 dolar, ketika pilpres mereka membuat berita hoaks, pendapatan menjadi 20.000 dolar per bulan,” ungkapnya.

Secara berseloroh Wisnu menyebut bahwa hanya 10 persen informasi yang masuk ke telephon seluler kita yang bermanfaat. “Sisanya sampah dan haha-hihi,” ujarnya.

Ia menegaskan perlunya menyaring berita yang diterima di media sosial. “Setiap detik ada 2,9 juta email beredar,” katanya.

“Yang dibutuhkan adalah memerika mana informasi yang bermanfaat,” tandasnya.

Wisnu memberi gambaran begitu berbahayanya berita bohong di media sosial. Ia menyebut koflik yang terjadi di negara seperti Suriah, Irak, juga kota Marawi dipercepat oleh media sosial. “Semua terjadi bukan karena pertama-tama pertikaian politik, tapi munculnya dari informasi medsos yang dipercaya sebagian orang dan sifatnya memcah belah,” ungkap Wisnu.

“Apakah kita akan membiarkan diri kita dan bangsa negeri ini menjadi seperti Marawi, itu sangat dipengaruhi bagaimana kita secara individu mencerna informasi, mensikapi informasi. Apakah ketika menemuka berita hoaks di group berani menjelaskan, atau kita diam saja?” tantang Wisnu.

“Jangan Anda pikir nasib Republik di tangan pangilima atau Pak Jokowi. Nasib Republik tergantung tangan kita juga,” tandasnya.
Sementara itu menurut Pengasuh Pondok Pesantren An Najah Dr Mohamad Roqib, terkait dengan berita bohong di media sosial, menurutnya, baik di Alquran maupun Hadis, kejujuran menjadi penentu keagamaan seseorang. “Kalau orang ucapannya tidak jujur, dia bukan Muslim yang baik. Dia Muslim yag menentang ajaran nabinya sendiri,” katanya.

Terkait kerja sama dengan gereja Katolik, Roqib mengungkapkan bahwa selama ini ia dan Uskup Purwokerto Emeritus Mgr Julianus Sunarka sangat dekat. “Dulu Bapak Uskup bisa saja tiba-tiba datang ke rumah tanpa memberi tahu. Saya juga demikian, kalau kangen datang ke keuskupan,” katanya.

“Semoga ini menjadi bagian dari media persaudaraan yang bisa dikembangkan,” tandasnya.

“Kedua, ini menjadi bahan pengalaman dan pengetahunan para santri, memahami bagaimana memanaj informasi. Bagaimana mensikapi informasi,” tambahnya.

Ketua Komisi Komsos Keuskupan Purwokerto Rm Teguh Budiarto mengatakan, “Dunia sekarang tergantung dari jari-jari kita. Mau perang, mau berantem, tinggal pencet jari. Ini dunia digital yang sudah mengambah dunia kita dan sering membuat kita salah paham, atau malah dipelintir, menjadi ribut dan sebagainya.”

Sutriyono

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *