Anak Muda Katolik Asia Belajar tentang Islam

Tembang dan puisi yang diiringi seni hadroh
Tembang dan puisi yang diiringi seni hadroh

Sejumlah 50 anak muda Katolik dari Jepang, Thailand dan Purwokerto berkunjung ke Pondok Pesantren Mahasiswa An Najah (1/8). Mereka mendengar paparan mengenai kehidupan pondok pesantren dari pengasuh pondok Kyai Dr. Mohaman Roqib. Kegiatan anak-anak muda dari Gereja Katolik tersebut dalam rangka Asian Youth Day 7 yang dipusatkan di Yogyakarta. Mereka belajar mengenai keanekaragaman masyarakat di Asia khususnya di Indonesia.

Pertemuan dimulai dengan penampilan teatrikal dari para santri. Sejumlah santriwan dan santriwati memainkan hadroh, sementara lima santriwati tampil membacakan tembang dan puisi. Salah satu tembang yang dibawakan adalah Kidung Jatimulya.

Dalam paparannya, Mohamad Roqib menyampaikan apa dan bagaimana pondok pesantren, kyai, dan santri.

Kyai M Roqib pengasuh Pondok Pesantren An Najah
Kyai M Roqib pengasuh Pondok Pesantren An Najah

Dalam pesantren menurut Roqib, selalu ada kyai sebagai pengasuh. Kyai memiliki minimal dua kompetensi, yaitu kompetensi dalam hal ilmu agama Islam dan kompetensi dalam hal spiritualitas. “Spiritualitas kyai berbeda dengan spiritualitas masyarakat pada umumnya. Hal ini seringkali tidak dimengerti oleh masyarakat,” kata Roqib.

Menurutnya spiritualitas kyai harus mendalam sampai hakekat terdalam dari ajaran Islam yang dipahami dalam ilmu tasawuf. Karena ilmunya itu, para kyai, menurutnya, memiliki pergaulan yang terbuka dengan orang-orang dari berbagai latar belakang agama. “Sementara kadang-kadang ada kelompok masyarakat yang mudah curiga dengan kelompok yang berbeda,” paparnya.

Sementara itu menurut Roqib, santri adalah orang yang belajar sesuai dengan keilmuannya dan beribadah seperti yang dilakukan kyai dalam pondok pesantren tersebut.

Lebih lanjut Kyai Roqib memberi penjelasan bahwa setidaknya ada lima hal yang merupakan ketentuan dasar pondok pesantren. Lima hal tersebut adalah ada kyai, ada santri, mempelajari kitab kuning, ada mushola atau masjid, dan terakhir ada pondok.

Menjawab pertanyaan salah satu peserta dari Jepang, Kyai Roqib menjelaskan, bahwa ada banyak anak muda atau mahassiwa Kristen atau Katolik yang seringkali datang ke pondok pesantren An Najah. Ada yang tinggal cukup lama. Akan tetapi mereka tidak ada yang kemudian menjadi Muslim. “Jangan khawatir,” kata Kyai Roqib.

Ia juga menjelaskan bahwa konflik yang sering terjadi antar pemeluk agama yang berbeda karena kurangnya komunikasi dan saling memahami satu dengan yang lain. “Ini arti penting dari kehadiran Anda semua di pesantren sehingga bisa saling kenal,” katanya.

Amelina Haryanti peserta dari Keuskupan Purwokerto merasa senang bisa berteman dan mengenal santri. Ia sempat diajak melihat kamar tidur santriwati dan melihat kamar mandinya juga. Menurutnya tempat tidur dan kamar mandi itu sangat sederhana.

“Tetapi saya mendapat pesan jelas, agar tidak membeda-bedakan antara Islam dan Katolik,” katanya.

Sementara dalam pengamatan Amelina, temannya Pho dari Thailand terlihat senang. Meskipun Pho kurang cakap berbahasa Inggris, Amelina memahami apa yang diungkapkan Pho. Pho juga sempat bertemu dengan teman Muslim senegaranya yang menjadi santriwati di Pondok Pesantren An Najah.

Selain berkunjung ke Pondok Pesantren An Najah, anak-anak muda Katolik ini belajar pertanian organik di Desa Gewok. Mereka juga menikmati makanan tradisional seperti klubanan, peyek, oseng tempe yang disantap dengan tangan di kebun.

Sejumlah anak muda di kelompok lain mengunjungi komunitas penghayat kepercayaan di Bukit Srandil, Adipala, Cilacap.

Tim media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *