Arah Pastoral Pendampingan OMK Keuskupan Purwokerto

Salah satu keprihatinan yang saya jumpai dalam mendampingi Orang Muda Katolik (OMK) adalah: kaum muda tidak menemukan waktu dan tempat untuk refleksi -yang memungkinkan hatinya tersentuh. Kalau sudah begitu maka ya jangan heran kalau dipukul tahunya marah dan balik memukul serta membenci.

Kita pun prihatin karena ada OMK yang pelan-pelan meninggalkan Gereja Katolik karena tersentuh oleh gereja/aliran lain yang mampu memberi ruang baginya untuk mengalami ketersentuhan hati (ada ruang untuk berefleksi). Atas keprihatinan ini, Komisi Kepemudaan KP tentu terpanggil membantu OMK untuk dapat berefleksi dan mempunyai tempat untuk tinggal nyaman di rumahnya (Gereja Katolik).

Tahap-tahap Masa Muda

Kita perlu mengenali siapakah orang muda. Tahap-tahap masa muda menurut Armand Nicholi, seorang professor of psychiatry di Harvard Medical School adalah:

1.      Masa muda awal-pubertas (usia SMP): sibuk dengan bentuk fisik, mempertanyakan makna dan tujuan hidup, hanyut dalam ungkapan emosi yang tidak menentu, hubungan pribadi dengan teman sebaya sangat penting untuk mengatasi kecemasan, membantu mencari jalan keluar (solusi), dan membagikan ketakutan dan kecemasan.

2.      Masa muda tengah (15-18 th): perlu pengertian yang lebih mendalam tentang dirinya sebagai makhluk seksual, berusaha memisahkan diri dari orang tua demi identitas diri, untuk meredakan emosi yang seperti ini, mereka mempunyai relasi yang sangat mendalam dengan teman sebaya atau lawan jenis (mulai melihat keluar dirinya).

3.      Masa muda akhir: perhatian terpusat pada peran dan tugas-tugas yang menyiapkan mereka untuk memasuki dunia kaum dewasa. Ini adalah masa kritis mengenai identitas dan intimitas.

Beberapa Pengamatan bersama Orang Muda

Orang muda itu mau berjuang demi kepentingan bersama asal itu untuk group/teman-temannya. Akhir-akhir ini berita tawuran marak diberitakan. Peristiwa tawuran remaja ini sebenarnya menunjukkan salah satu perilaku kaum muda yakni senang nge-group dan ikut-ikutan. Contoh lainnya adalah bingung memilih tempat kuliah kemudian hanya ikut-ikutan saja. Karena kurangnya pendampingan, kaum muda sulit bertindak berdasarkan mana yang baik/tidak baik, tetapi cenderung untuk melakukan mana yang menyenangkan/tidak menyenangkan. Kalau itu menyenangkan, maka aku ikut.

Kaum muda itu kritis terhadap orang lain tetapi kurang atau tidak bisa membuat kritik atas diri sendiri (berefleksi dan membiarkan diri disentuh). Kaum muda pun mengalami kebingungan akan sebuah intimitas dalam relasi.  Suasana keluarga tidak mampu membangun pribadi yang matang secara fisik, psikis, emosional dan sosial. Contohnya: banyak anak muda yang stress karena tidak betah menerima perlakuan ayahnya. Contoh lain:  munculnya tipe “anak simbah/eyang/oma” karena dididik oleh neneknya lalu orang tuanya sendiri sibuk kerja sehingga si anak manja: tidak dilatih untuk struggledengan alam, mudah sakit, takut bergaul dengan orang asing, dll.

Lantas?

Tentu Orang Muda Katolik harus bisa disentuhkan dengan pengalaman pribadi. Bahkan OMK perlu diberi pengertian bahwa mereka pernah atau sedang mengalami kekeringan rohani karena tidak pernah sampai kepada Yesus. Maka, anak muda harus didekatkan dengan Yesus, Sang Penyentuh Jiwa.

Komisi Kepemudaan KP berusaha menjawab permasalahan tersebut dan telah merumuskan visi sbb: “OMK Keuskupan Purwokerto adalah paguyuban orang muda katolik se-Keuskupan Purwokerto yang bersama-sama menghayati dan mewujudkan nilai: solidaritas, tanggungjawab, kemandirian, kejujuran, keadilan sebagai keutamaan kristiani dalam rangka ikut berpartisipasi dalam gerak Keuskupan Purwokerto untuk menegakkan Kerajaan Allah” (Visi OMK KP-Komkep, 2008).

Cita-cita dan jati diri OMK KP tersebut dipertegas dengan dengan misi yang diemban yakni:

1. Mengembangkan paguyuban orang muda katolik Keuskupan Purwokerto: membentuk jaringan.

2. Mengembangkan kualitas hidup OMK melalui penghayatan dan perwujudan 5 nilai (kejujuran, keadilan, tanggung jawab, solidaritas, kemandirian) dalam usaha memerangi pengaruh negatif modernitas (konsumerisme, hedoisme, materialisme dll).

3. Mengembangkan kesediaan dan kesanggupan OMK dalam menegakkan Kerajaan Allah (sebagai usaha untuk berpartisipasi dalam gerak Keuskupan Purwokerto dalam menegakkan Kerajaan Allah).

Tugas Komisi Kepemudaan KP

Komisi Kepemudaan KP ada untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengkoordinasikan karya pastoral untuk Orang Muda Katolik, khususnya kaderisasi dan pemberdayaan serta pengembangan hidup rohani Orang Muda Katolik, sehingga mereka semakin mampu untuk terlibat di dalam pengembangan umat dan masyarakat.

Statuta Keuskupan Purwokerto menyebutkan dengan jelas tugas Komisi Kepemudaan. Dengan sendirinya, kalau tugas-tugas tersebut berjalan dengan baik, tentu saja visi misi tersebut dapat berjalan dengan baik pula.

Tugas-tugasnya adalah:

1. Kaderisasi:

Komkep merencanakan dan melaksanakan kaderisasi dan pengembangan hidup rohani Orang Muda Katolik, usia 16-35 tahun dan belum menikah. Indikator keberhasilannya adalah adanya modul pendampingan: pengembangan, pembentukan komunitas; jumlah kegiatan: rekoleksi, pelatihan, dll.

2. Pemberdayaan:

Komkep merencanakan dan melaksanakan pelatihan dan pemberdayaan bagi pengurus OMK paroki supaya semakin banyak kaum muda yang terlibat dalam pemberdayaan umat dan masyarakat. Indikator keberhasilan: ada modul pemberdayaan; jumlah kegiatan, jumlah OMK yang terlibat di masyarakat.

Komkep memastikan bahwa kelompok-kelompok kategorial / gerakan OMK mendapatkan pendampingan yang memadai.  Indikator keberhasilan: ada pertemuan koordinatif,  pembekalan pengurus, dan pelatihan-pelatihan.

3. Membangun jejaring:

Komkep menjalin komunikasi dan kerjasama dengan kelompok-kelompok kategorial kaum muda baik di dalam Gereja maupun di dalam masyarakat. Indikator keberhasilan: jumlah pertemuan lintas kelompok OMK dan laporan realisasi kegiatan.

Komkep menjalin kerjasama dengan komisi lain. Indikator keberhasilan: jumlah bentuk kerja sama yang dilaksanakan.

Komkep mengembangkan jaringan komunikasi pelajar tingkat SLTA. Indikator: jumlah pertemuan jaringan komunikasi.

4. Pengelolaan sarana/keuangan:

Indikator keberhasilan: adanya laporan keuangan serta inventarisasi sarana dan prasarana.

IYD Menjadi Titik Tolak Pembangkit

Ketua Komkep yang baru (masa bakti 2012-2015), ditunjuk oleh Bapak Uskup pada bulan Maret 2012. Sebelumya terjadi kekosongan ketua komkep selama 9 bulan karena ketua yang menjabat bertugas studi lanjut ke luar negeri dan kemudian menunggu proses penunjukan ketua yang baru.

Adanya kegiatan Indonesian Youth Day (IYD) 2012 di Sanggau Kalbar (20-26 Oktober 2012) menginspirasi Komkep untuk kembali merapat menjalankan pelayanannya. Ada 62 orang utusan yang mewakili Keuskupan Purwokerto untuk  mengikuti kegiatan tingkat nasional tersebut. Para utusan inilah yang nantinya diharapkan menjadi kader Gereja. Dengan adanya kader OMK tersebut, jaringan terbentuk dan siap melangkah mewujudkan visi misi OMK KP.

Untuk mengefektifkan gerakan ini, komkep juga bergerak di tiap-tiap dekenat dengan dipimpin oleh moderator OMK Dekenat. Petemuan pengurus secara rutin kiranya menjadi sarana komunikasi yang baik untuk menentukan langkah-langkah pendampingan yang terarah. Komkep pun bekerjasama dengan komisi lain misalnya komisi HAK dan Kerawam dan membentuk Tim Pengkaderan Umat Katolik.

Harapan

Mendampingi OMK itu diperlukan sikap siap sedia, tidak tergesa-gesa, tidak cepat menilai anak muda dan mampu mengerti bahasa orang muda. Semoga Allah selalu menyertai para penggerak OMK sehingga mampu mendampingi OMK untuk merasa at home dengan imannya, terlebih lagi semakin menemukan diri yang disentuh oleh Yesus yang membawa Kerajaan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *